Skip to main content

Maraknya Monkey Business Saat Ini

 Maraknya Monkey Business Saat Ini
Monkey Business

Maraknya Monkey Business Saat Ini

Beragam jenis investasi tengah dibicarakan saat ini, agar mereka bisa berinvestasi bahkan sejak usia muda. Tak kalah pentingnya, berbagai jenis investasi saat ini juga diperkenalkan secara jelas seperti deposito, investasi properti, investasi emas dan lain sebagainya.

Namun karena setiap jenis investasi memiliki kekurangan, ada juga yang mengambil jalan pintas dengan menjalankan Monkey Business. Bisnis ini dapat diartikan sebagai bisnis yang lebih tidak bertanggung jawab, menjalankan bisnis dengan cara yang tidak baik.

Bukan itu saja, bisnis monyet disini lebih pada sikap monyet ketika mendapat keuntungan berupa makanan maka monyet tersebut akan lari atau kabur. Dengan begitu, maka Anda sudah sedikit mengetahui tentang apa bisnis monyet itu. Bisnis monyet dapat diartikan sebagai strategi bisnis yang bertujuan untuk merugikan orang lain dengan cara mendapatkan keuntungan untuk diri sendiri walaupun itu curang.

Akhir-akhir ini istilah Monkey Business menjadi cukup populer. Istilah Bisnis Monyet sudah dikenal sejak lama, apalagi jika Anda memasuki dunia pasar modal atau bursa dimana jumlah pemain dalam skema bisnis ini sudah tidak bisa dihitung lagi.

Monkey Business atau bisnis monyet adalah bisnis kotor yang harus dihindari orang yang ingin belajar kewirausahaan. Pengusaha akan kabur dengan keuntungan yang diterima dari korban. Contoh di dunia nyata adalah banyaknya kasus arisan palsu yang merugikan para anggotanya.

Awalnya para anggota diiming-imingi arisan dengan keuntungan berlipat. Di awal waktu atau di babak pertama hingga akhir, warga bisa merasakan manfaatnya sehingga di periode selanjutnya warga diminta untuk menambah saldo arisannya.

Warga juga awalnya tidak khawatir karena manfaat yang mereka dapatkan sebelumnya. Kemudian dengan jumlah anggota yang lebih banyak dan biaya yang lebih tinggi, tentunya uang yang terkumpul oleh penyelenggara sangat besar, mencapai ratusan bahkan milyaran. Kemudian dalam keadaan uang sudah terkumpul banyak maka penyelenggara arisan lantas kabur dengan membawa uang.

TOC / Daftar Isi

Seperti apa cerita yang menggambarkan Monkey Business?

Banyak netter kemudian kembali berbagi tulisan tentang bisnis monyet yang akhirnya viral. Berikut kutipan dari cerita tersebut:

Suatu hari di sebuah desa, ada seorang kaya raya mengumumkan bahwa dia akan membeli monyet dengan harga Rp. 50.000, per ekor. Monyet disana sudah tidak ada harganya, karena dengan kondisi jumlah monyet yang banyak, bahkan penduduk desa menyebut monyet sebagai hama pemakan tanaman buah-buahan.

Para penduduk desa mulai sadar bahwa banyak monyet di sekitar desa, kemudian mereka mulai memasuki hutan dan menangkap mereka satu per satu monyet tersebut. Kemudian Orang Kaya itu membeli ribuan monyet seharga Rp 50.000.

Karena penangkapan dilakukan secara besar-besaran, akhirnya monyet semakin sulit ditemukan. penduduk desa mulai menghentikan usahanya untuk menangkap monyet. Kemudian orang kaya itu kembali untuk mengumumkan sekali lagi bahwa dia akan membeli monyet dengan harga Rp 100.000 per ekor. Tentu saja ini memberikan semangat dan angin segar bagi penduduk desa untuk mulai menangkap monyet itu lagi.

Tidak lama kemudian jumlah monyet semakin sedikit dari hari ke hari dan semakin sulit ditemukan, kemudian penduduk kembali melakukan aktivitas seperti biasa yaitu bertani. Karena monyet sekarang menjadi langka, harga monyet pun melambung tinggi yaitu Rp 150.000 per ekor. Tapi tetap saja monyet sudah sangat sulit untuk dicari.

Sekali lagi orang kaya itu kembali dan mengumumkan kepada penduduk desa bahwa dia akan membeli monyet dengan harga Rp 500.000 per ekor. Tetapi, karena orang kaya tersebut tiba-tiba harus pergi ke kota untuk urusan bisnis, jadi asisten pribadinya yang akan menggantikan sementara atas namanya tersebut.

Dengan tidak adanya Orang Kaya, Asisten juga berkata seperti ini kepada penduduk desa: "Lihatlah monyet yang ada di dalam kandang besar, itu dikumpulkan oleh orang kaya. Saya akan menjual monyet itu untuk kalian dengan harga Rp 350.000 per ekor dan jika nanti orang kaya tersebut kembali lagi, Kalian bisa menjualnya kembali ke orang kaya dengan harga Rp 500.000 per ekor. Bagaimana menurut kalian?"

Akhirnya, para penduduk desa mengumpulkan tabungan mereka, bahkan menjual aset dan kredit ke bank untuk membeli semua monyet di dalam kandang. Kemudian setelah beberapa lama, penduduk desa tidak pernah melihat Orang Kaya atau Asisten di desa itu lagi.

Dari cuplikan cerita tersebut inilah yang sering orang katakan dengan Bisnis Monyet.

Strategi seperti itu biasanya dilengkapi juga dengan orang-orang bisnis yang luar biasa dengan cara pameran-pameran bahkan event-event besar dengan harga yang menggiurkan, sehingga banyak masyarakat yang tertarik untuk ikut bermain di dalamnya, padahal di event-event tersebut pemainnya adalah para orang-orang kapitalis yang bersandiwara untuk memikat masyarakat lebih banyak.

Back to Content ↑

Bagaimana kondisi bisnis monyet pada keadaan pandemi saat ini?

1. Fenomena Bisnis Monyet di Tengah Wabah Corona

Ini persis sama dengan yang terjadi pada penimbun masker. Mereka kini mulai pusing karena kerugian yang diderita akibat Bisnis Monyet. Seperti yang sudah kita ketahui, masker bedah yang banyak dijual di pasaran ternyata bisa diganti dengan masker kain dengan harga yang relatif jauh lebih murah.

Selain itu, konsumen masker terbesar yakni China sudah mulai mengurangi permintaan masker karena wabah Corona di negaranya berangsur membaik. Sekarang penimbun masker mulai bersaing untuk menjual barang mereka yang ditimbun dengan harga rendah, beberapa malah men-tweet "Twitter lakukan keajaiban Anda".

Inilah yang terjadi jika Anda hanya ikut berbisnis atau berjualan saja tanpa perencanaan dan ilmu perdagangan yang cukup matang alias dadakan. Anda bisa saja terjebak dalam berbagai skema bisnis yang tidak mendatangkan untung, bahkan menyedot keuangan Anda. Sudah sulit mendapatkan pekerjaan karena wabah, tetapi sekarang Anda harus merugi karena fenomena ini. Sangat menyedihkan bukan??.

Back to Content ↑

2. Penimbunan barang yang mengakibatkan kelangkaan dilarang oleh hukum

Pemerintah tentunya tidak tinggal diam menghadapi potensi kerugian tersebut, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pasal 29 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan (“UU 7/2014”). Selain potensi kerugian yang besar, perilaku menimbun barang juga dapat menimbulkan masalah sosial seperti kelangkaan barang.

Orang-orang seperti itu tidak pernah belajar cukup dari dua kejadian ini. Memang jualan tidak dilarang oleh undang-undang, tapi bukankah Anda hanya menggunakan akal sehat sebelum memutuskan untuk menjual.

Potensi kerugian terbesar adalah mereka yang hanya mengikuti di akhir periode, dimana harga telah naik secara gila-gilaan dan siap untuk terjun bebas. Dan inilah yang terjadi sekarang di masyarakat. Jadi, sebelum Anda ikut berjualan, ada baiknya Anda melakukan analisis jangka panjang terlebih dahulu apakah model penjualan tersebut merupakan skema bisnis yang menyedihkan atau tidak.

Hati-hati dalam era saat ini. Monkey Business atau bisnis monyet makin ramai di masyarakat dalam keadaan seperti ini. Bahkan banyak dari mereka yang memanfaatkan kondisi ini.

Back to Content ↑

Demikian artikel tentang maraknya monkey business saat ini dibuat. Sekian, Terima Kasih dan Semoga Bermanfaat!.